30 Tahun Kita Tahu Mobil Indonesia Nggak Jalan Lurus. Tapi Nggak Ada yang Ngubah.
Disiplin itu cuma gejala — masalahnya kegagalan koordinasi. Semua pemain jalanan tahu aturan mainnya, semua tahu kalau nggak ada yang taat semua rugi, tapi nggak ada yang bisa keluar duluan dari lingkar setan ini. 30 tahun dokumentasi akademis, hukum, dan tilang massal nggak ngubah apa-apa.
Lu pernah nggak mikir: kenapa di jalanan Jakarta, yang namanya "jalur" tuh kayak cuma hiasan?
Mobil masuk jalur motor. Motor zig-zag masuk celah mobil. Marka kuning dicat, dipudarin, dicat lagi, dipudarin lagi. Tilang jalan terus. Eh, jalanannya jalan segitu-gitu aja — berantakan, kane-mu jadi nggak kane pas macet. Anjay.
Dan inilah bagian yang alig: kita tahu masalahnya udah 30 tahun. Nggak cuma tau, tapi udah di-dokumentasiin akademis, udah diatur hukum, udah ditilang massal. Hasilnya? Nol besar. Bjir.
Bukan Soal Disiplin — Ini Soal Coordination Failure
Banyak orang ngomong "ah, emang bangsanya nggak disiplin." Kadit. Disiplin itu cuma gejala. Yang bener-bener kejadian di jalanan tuh kegagalan koordinasi (coordination failure) — semua pemain jalanan tahu aturan mainnya, semua tahu kalau nggak ada yang taat semua rugi, tapi nggak ada satu pun yang bisa keluar duluan dari lingkar setan ini.
Coba bayangin gini: lo mobil, ngantre rapi di jalur lo, eh di depan ada motor yang nyempil masuk celah. Lo diem aja? Sabi sih sabi, tapi bakal nggak gerak. Jadi lo ikutin, nyerobot dikit, biar nggak ketinggalan. Terus motor di belakang lo lihat lo serobot — dia makin nekat zig-zag. Naik-naik terus. Itu bukan orang bebal, itu strategi rasional bertahan hidup di tengah semuanya udah nggak sabi diperbaiki.
Ini yang jarang diangkat: zig-zag motor tuh bukan karena motor bandel — itu respon ke mobil yang nggak bisa lurus. Mobil serobot karena takut ketinggalan, motor serobot karena mobil serobot. Lingkaran. Equilibrium yang udah settle selama tiga dekade.
Bukti-Buktinya Udah Ada, dan Banyak
Jangan kira ini cuma omongan emak-emak di grup RT. Ini level akademis, bre.
1996 — dua peneliti bernama Hook & Replogle udah nulis di jurnal Land Use Policy tentang motor Jakarta yang "weaving between stationary cars" — ngeweave di antara mobil-mobil yang mandek. Tiga puluh tahun yang lalu. Makanya judul artikel ini bukan lebay.
2009 — UU No. 22/2009, Pasal 287 (1), udah nyiapin sanksi Rp 500 ribu buat kendaraan yang masuk jalur motor. Hukumnya udah ada sebelum ada markanya, gengs.
2013 — Polda Metro nggak main-main. Sembilan hari sosialisasi marka kuning di Thamrin–Sudirman, 3.272 kendaraan ditilang. Angka gede. Efeknya? Nol. Pattern tetap jalan sampai 2024.
2014 — Pergub DKI 195/2014: jalur khusus motor dilegalkan. 2018 — marka kuning di Thamrin, Sudirman, Rasuna Said diformalkan. 2020 — Frey, antropolog, masih nulis ojek Bandung yang weave in and out of gridlocked cars. Tiga puluh tahun, lima institusi beda, semua nyimpulin hal yang sama.
Dan sekarang zaman ETLE — kamera digital yang bisa deteksi pelanggaran pakai image processing. Secara teknis, ETLE sabi deteksi mobil nyerobot jalur motor. Tapi kenyataannya? Lebih dari 80% tilang ETLE itu tilang ngebut sama lampu merah. Ngejar marka jalur? Minim banget. Hukumnya bukan nggak ada — eksekusinya yang lemah. Enak diliat, susah dijalanin.
"Ini Cuma Jakarta" — Kadit Juga
Nih, biar nggak dibilang cupu kota tetangga: pattern ini memang paling parah di Jakarta, tapi observable di Bandung, Surabaya, Medan. Emangnya di sana jalanannya lurus-lurus aja? Hahaha. Yang beda cuma Bali — itu karena turisme ngecas insentif: nggak ada yang mau jadi omzet kanal berita karena melanggar di depan bule. Polisi adat + pressure sosial. Beda sistem, beda hasil. Itu justru bukti kalau masalahnya bukan "DNA orang Indonesia" — tapi desain.
Jangan Juga Ngeblame Motor Sendiri
Gue denger lu: "lah motor juga bandel, masuk busway, lawan arah." Iya, bener. Motor bukan malaikat. Tapi framing gue bukan "motor = korban." Framing gue: ini equilibrium analysis. Semua aktor ngejar kepentingan rasional masing-masing. Motor zig-zag bukan karena gila hormat — itu strategi paling efisien buat nyampe tujuan given kondisi jalan yang udah nggak ketolong. Salahkan sistem yang bikin zig-zag jadi pilihan paling rasional, bukan orangnya.
Ada juga counter yang bagus dari founder JDDC: "memotong jalur udah masuk pelanggaran etika." Setuju. Tapi etika nggak jalan kalau insentifnya bilang: melanggar = nyampe lebih cepet, taat = kena macet. Etika nggak pernah menang lawan kemacetan 2 jam.
"Tinggal Tambah Polisi" — Sayangnya Nggak Sesimpel Itu
Ini solusi instan yang paling sering dilontarin orang. Dan sejarah udah ngebuktiin gagal: 3.272 tilang dalam 9 hari itu banyak, bre — masih tetep nggak ngubah apa-apa. Polisi nambah, tilang nambah, jalan tetap sama.
Bahkan ada kasus viral tilang tebang pilih: mobil Kemenhan, mobil pelat merah, yang diviralkan. Sampai Pramono sendiri yang desak publik buat viralkan. Enforcemen yang pilih-pilih itu racun — sekali orang liat yang berkuasa lolos, trust langsung ilang, dan semua orang balik ke strategi "yang penting nyampe."
Enforcement tanpa desain = nol hasil. Yang dibutuhin kombinasi: infrastruktur yang bikin taat jadi pilihan paling gampang, insentif yang nggak ngasih hadiah buat pelanggar, dan penegakan yang konsisten — bukan pilih-pilih.
Yang Belum Dijawab (Riset Lanjutan, Kuy)
Jujur, masih ada bolong yang belum keisi di riset ini:
1. Vietnam — negara motor raksasa, nggak punya jalur khusus, tapi katanya lebih tertib. Kalau ada studi banding pasca-reform, itu bisa jadi klimaks artikel ini. Belum ketemu datanya.
2. Data kecelakaan karena lane discipline 2024–2025 dari Korlantas — angka mati bisa ngerubah opini publik. Belum dibuka aksesnya.
3. Game theory formal — belum ada yang nge-modelin traffic Indonesia secara formal. Frey 2020 masih level antropologi. Luangkan buat akademisi yang baca ini: ini ladang emas.
4. Peran ojol — Gojek, Grab: puluhan ribu driver profesional, ada training, ada brand identity. Merekalah aktor yang paling mungkin nge-break equilibrium. Belum digali.
Penutup: Ini Bukan Soal "Nggak Tahu"
Kalau ada satu hal yang pengen gue tanemin dari artikel ini: masalahnya bukan ketidaktahuan. Kita nggak kekurangan data, nggak kekurangan hukum, nggak kekurangan bukti. 30 tahun, bre. Jurnal internasional udah tulis, DPR udah bikin UU, Pemprov udah cat marka, polisi udah tilang jutaan.
Kita kekurangan koordinasi. Nggak ada pihak yang cukup takut rugi buat gerak duluan. Sampai insentifnya dirombak — jalan lurus jadi lebih untung daripada nyerobot — equilibrium ini bakal terus jalan. Dan kita bakal terus nulis artikel yang sama 30 tahun lagi.
Anjay. Semoga nggak.